Sebuah emosi

Malam itu hujan deras mengguyur kotaku tercinta. Air yang turun seakan akan tidak memiliki jeda untuk berhenti. seperti sebuah emosi yang meledak-ledak saat tersulut.

Dia. . . . .
Menyentuh titik paling dalam kesabaranku! . Mungkin ini hanyalah masalah sepele, dia balas chatku dengan ketus. Menganggap aku sebagai serangga, yang terbang dikehidupannya tanpa arah dan tujuan. Berputar-putar seperti ku ingin menggodanya.

Walaupun aku pendiam, sabar, konyol, lamban. ku punya kesabaran dan mempunyai emosi juga.

Emosi ku ini mungkin salah.  Aku merasa begitu. Seandainya dia jadi aku, pastilah dia tahu apa yang aku rasakan.

Eeemmn tapi ku tidak mengganggu dia trus kok. Waktu itu dia like postingan ig ku dengan caption sedih sesek gitu. Aku chat dia buat komen captionnya, ehh Malah ku dianggap mengganggu.

Dan

Pagi ini ku benar-benar merasa sangat menyesali atas kejadian semalam.

 Kenapa ku harus emosi kepadanya?  padahal aku orang lain tidak pacar atau pun keluarga, hanya sebatas teman saja.

Andai dia tahu perasaan ini, Andai dia tahu tulusnya hati ini mencintainya.

Wahai dewa cinta sampaikanlah pesan ini padanya. Aku suka kamu yang kekanak-kanakan yang Selalu ribut kalau dijalan.aku suka kamu yang selalu rewel saat menginginkan sesuatu. Bukan paras cantikmu saja yang aku suka, tapi semua tentang kamu aku suka.ku hanya bisa mendoakanmu, Semoga kau bahagia dengan apa yang kauyakini bahagia.

Mungkin emosi ini tidak akan pernah muncul jikalau ku tak mencintaimu. Mungkin juga emosi ini muncul karena aku telah gagal mendapatkan hatimu.


Komentar